Rabu, 10 November 2010

Perekonomian 2 sektor

Perekonomian Dua Sektor adalah Perekonomian yang terdiri dari sektor rumah tangga dan perusahaan. Ini berarti dalam perekonomian tidak terdapat kegiatan pemerintah dan perdagangan luar negri.

Pendapatan faktor-faktor produksi

(Gaji dan Upah, Sewa, bunga, dan Untung)

Aliran 1

PERUSAHAAN RUMAH TANGGA

Aliran 2

Konsumsi Rumah Tangga Aliran 3:

Tabungan

Aliran 5: Investasi Lembaga Keuangan

Reserved: BANK

Aliran 4: Pinjaman

Penanam Modal

Gambar: Sirkulasi Aliran Pendapatan Ekonomi Modern

Aliran-aliran pendapatan dalam perekonomian dua sektor seperti yang terlihat pada gambar di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa aliran-aliran pendapatannya mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:

  1. Sebagai balas jasa kepada penggunaan faktor-faktor produksi yang dimiliki sektor rumah tangga oleh sektor perusahaan, sektor rumah tangga akan memperoleh aliran pendapatan berupa gaji, upah, sewa, bunga, dan untung.
  2. Sebahagian besar dari berbagai jenis pendapatan yang diterima oleh sektor rumahtangga akan di gunakan untuk konsumsi, yaitu membeli barang-barang dan jasa-jasa yang di hasilkan oleh sektor perusahaan.
  3. Sisa dari berbagai jenis pendapatan rumahtangga yang tidak di gunakan untuk pengeluaran konsumsi akan di tabung dala institusi-institusi keuangan.
  4. Pengusaha-pengusaha yang memerlukan modal untuk melakukan investasi akan meminjam tabungan yang dikumpulkan oleh institusi-institusi keuangan dari sektor rumahtangga.

HUBUNGAN DI ANTARA KONSUMSI DAN PENDAPATAN

Terdapat beberapa factor yang menentukan tingkat pengeluaran rumahtangga (secara rumit kecil atau dalam keseluruhan ekonomi), yang terpenting adalah pendapatan rumah tangga. Tabel yang menggambarkan hubungan di antara konsumsi rumahtangga dan pendapatan dinamakan daftar(skedul) kunsumsi. Daftar konsumsi pada dasarnya menggambarkan besarnya konsumsi rumah tangga pada tingkat pendapatan yang berubah-ubah. Misalnya seperti yang terdapat pada tabel di bawah ini;

Pendapatan disposibel

Pengeluaran Konsumsi

Tabungan

(Yd)

(C)

(S)

0

125

-125

100

200

-100

200

275

-75

300

350

-50

400

425

-25

500

500

0

600

575

25

700

650

50

800

725

75

900

800

100

1000

875

125

Daftar Konsumsi dan Tabungan Rumah Tangga

1) Pada Pendapatan yang rendah rumahtangga mengorek tabungan. Pada waktu pendapatan disposibel adalah (Yd=0), Pengeluaran konsumsi adalah Rp 125 ribu. Ini berati rumahtangga harus menggunakan harta atau tabungan masa lalu untuk membiayai pengeluaran konsumsinya. Tabungan negatif atau mengorek tabungan akan selalu di lakukan oleh rumahtangga apabila pendapatannya masih di bawah Rp 500 ribu.

2) Kenaikan pendapatan menaikkan pengeluaran knsumsi. Biasanya pertanbahan pendapatan adalah lebih tinggi daripada pertambahan konsumsi. Contoh tabel di atas menunjukkan apabila pendapatan bertambah sebanyak Rp 100 ribu, konsumsi bertambah sebanyak Rp 75 ribu, sisa Pertambahan pendapatan itu Rp 25 ribu di tabung.

3) Pada Pendapatan yang tinggi rumahtangga menabung. Di sebabkan pertambahan pendapatan selalu lebih besar dari pertambahn konsumsi maka pada akhirnya rumahtangga tidak “mengorek tabungan” lagi, ia akan mampu menabung sebagian pendapatannya. Contoh tabel menunjukkan apabila pendapatan rumahtangga lebih daripada 500 ribu, konsumsinya lebih rendah daripada pendapatannya, sebagai contoh pada pendapatan Rp 900 ribu, konsumsi adalah Rp 800 ribu, ini menunjukkan rumahtangga sudah menabung sebanyak Rp 100 ribu.

Þ Kecondongan Mengkonsumsi dan Menabung

Untuk memahami dengan baik sifat hubungan di antara pendapatan disposibel dengan konsumsi, dan pendapatan disposebel dengan tabungan perlulah di terangkan dua konsep penting beikut:

I. Kecondongan mengkonsumsi, dan

II. Kecondongan menabung

DEFINISI KECONDONGAN MENGKONSUMSI. Konsep kecondongan mengkonsumsi perlu di bedakan menjadi dua pengertian, yaitu kecondongan mengkonsumsi marginal dan kecondongan mengkonsumsi rata-rata. Definisi dan arti setiap konsep ini adalah:

1) Kecondongan Mengkonsumsi Marginal/MPC(Marginal Propensity to Consume) dapat didefinisikan sebagai perbandingan di antara pertambahan konsumsi ( C)yang dilakukan dengan pertambahan pendapatan disposebel

( Yd) yang diperoleh. Nilai MPC dapat dihitung dengan formula :

MPC= C/ Yd

2) Kecondongan Mengkomsumsi Rata-rata/APC(Average Propensity to Consume) dapat didefinisikan sebagai perbandingan di antara tingkat pengeluaran konsumsi (C) dengan tingkat pendapatan disposebel pada ketika konsumen tersebut dilakukan (Yd). Nilai APC dapat dihitung dengan menggunakan formula:

APC=C/Yd

Þ Contoh Menghitung MPC dan APC

KECONDONGAN MENGKONSUMSI MARGINAL DAN RATA-RATA

Pendapatan

Pengeluaran

Kecondongan

Kecondongan

Disposebel

Konsumsi

Mengkonsumsi Marginal

Mengkonsumsi Rata-rata

(Yd)

( C )

(MPC)

(APC)

CONTOH 1: MPC TETAP

Rp 200

Rp 300

150/200=0,75

300/200=1,50

Rp 400

Rp 450

450/400=1,125

Rp 600

Rp 600

150/200=0,75

600/600=1,00

Rp 800

Rp 750

150/200=0,75

750/800=0,9375

CONTOH 2: MPC MAKIN KECIL

Rp 200

Rp 300

160/200=0,80

300/200=1,50

Rp 400

Rp 460

460/400=1,15

Rp 600

Rp 610

150/200=0,75

610/600=1,017

Rp 800

Rp 750

140/200=0,70

750/800=0,9375

DEFINISI KECONDONGAN MENABUNG MARGINAL, dibedakan atas dua istilah, yaitu:

  1. Kecondongan Menabung Marginal/MPS(Marginal Propensity to Save) dapat didefinisikan sebagai perbandingan di antara pertambahan tabungan ( S) dengan pertambahan pendapatan diposebel( Yd). Nilai MPS dapat dihitung dengan formula:







MPS= S/ Yd

  1. Kecondongan Menabung Rata-rata/APS(Average Propensity to Save), dapat didefinisikan sebagai perbandingan di antara tabungan (S) dengan pendapatan disposebel(Yd), Nilai APS dapat di hitung dengan menggunakan formula:

APS=S/Yd

Þ Contoh Menghitung MPS dan APS

KECONDONGAN MENABUNG MARGINAL DAN RATA-RATA

Pendapatan

Pengeluaran

Tabungan

Kecondongan

Kecondongan

Disposebel

Konsumsi

Menabung Marginal

Menabung Rata-rata

( Yd )

( C )

( S )

( MPS )

( APS )

CONTOH 1: MPS TETAP

Rp 200

Rp 300

Rp-100

50/200=0,25

-100/200=-0,50

Rp 400

Rp 450

Rp-50

-50/400=-0,25

Rp 600

Rp 600

Rp 0

50/200=0,25

0/600=0

Rp 800

Rp 750

Rp 50

50/200=0,25

50/800=0,0625

CONTOH 2: MPS MAKIN BESAR

Rp 200

Rp 300

Rp-100

40/200=0,20

-100/200=-0,50

Rp 400

Rp 460

Rp-60

-60/400=-0,25

Rp 600

Rp 610

Rp-10

50/200=0,25

0/600=0

Rp 800

Rp 750

Rp 50

60/200=0,30

50/800=0,0625

Þ HUBUNGAN DI ANTARA KECONDONGAN MENGKONSUMSI DAN MENABUNG.

Formula: MPC+MPS=1 APC+APS=1

Yd=C+S

Pendapatan Disposebel

MPC

MPS

MPC+MPS

APC

APS

APC+APS



CONTOH 1: MPC DAN MPS TETAP


Rp 200

0,75

0,25

1

1,50

-0,50

1


Rp 400

0,75

0,25

1

1,125

-0,125

1


Rp 600

0,75

0,25

1

1,00

0

1


Rp 800

0,9375

0,0625

1


CONTOH 2: MPC DAN MPS BERUBAH


Rp 200

0,8

0,2

1

1,50

-0,50

1


Rp 400

0,75

0,25

1

1,125

-0,15

1


Rp 600

0,70

0,30

1

1,00

-0,017

1


Rp 800

0,9375

0,0625

1










µ FUNGSI KONSUMSI DAN FUNGSI TABUNGAN

Konsumsi Agregat adalah Pengeluaran konsumsi dari semua rumahtangga dalam perekonomian. Tabungan semua rumahtangga dalam perekonomian disebut tabungan agregat.

a) Fungsi konsumsi adalah Suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan di antara tingkat konsumsi rumahtangga dalam perekonomian dengan pendapatan nasional (pendapatan disposebel) perekonomian tersebut.

b) Fungsi Tabungan adalah Suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan di antara tingkat tabungan rumahtangga dalam perekonomian dengan pendapatan nasional (pendapatan disposebel).

DAFTAR KONSUMSI DAN TABUNGAN

Pendapatan Negara

Penggunaan Agregat

Tabungan Agregat



( Y )

( C )

( S )


0

90

-90


120

180

-60


240

270

-30


360

360

0


480

450

30


600

540

60


720

630

90


840

720

120


960

810

150


1080

900

180


1200

990

210


Tabel diatas menunjukkan tingkat pendapatan nasional, tingkat konsumsi, dan tingkat tabungan yang menggunakan pemisalan. Dapat dilihat bahwa pada pendapatan 0, konsumsi rumahtangga dalam perekonomian adalah 90 triliun, dengan demikian rumahtngga melakukan “mengorek tabungan” sebanyak Rp 90 triliun juga.Contoh tersebut menggambarkan pula bahwa pendapatan nasional selalu mengalami perubahan sebanyak Rp 120 triliun, dan karena dimisalkan MPC=0,75(MPS=0,25), maka konsumsi dan tabungan masing-masing akan bertambah sebanyak 0,75(120 triliun)=90 triliun dan 0,25 (120 triliun)=30 triliun. Berdasarkan hal tersebut maka konsumsi agregat selalu mengalami pertambahan sebanyak 90 triliun, dan tabungan agregat selalu mengalami pertambahan sebanyak Rp 30 triliun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar